Selasa, 12 November 2013

Anas Menolak Menandatangani BAP

Pihak Anas Urbaningrum menolak menandatangi berita acara pemeriksaan atas penggeledahan yang dilakukan tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di rumahnya di Jalan Teluk Semangka, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (12/11/2013). Ini alasannya.

"Yang jelas, kami tegas menolak untuk menandatangani BAP penggeledahan ataupun penyitaan dari KPK," kata Firman Wijaya, pengacara Anas, dalam jumpa pers, Selasa malam. Penolakan, ujar dia, terkait penyitaan sejumlah barang yang tidak terkait kasus Hambalang dan tersangka Machfud Suroso.

Salah alamat

Sementara itu, organisasi massa Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) menyatakan KPK sudah salah alamat dengan menggeledah markas PPI. Rumah yang digeledah KPK adalah bekas kediaman Anas yang telah diserahkan untuk menjadi markas ormas tersebut. Terlebih lagi, KPK juga menyita uang operasional organisasi.

"Yang digeledah rumah pergerakan PPI. Saya bisa katakan itu salah alamat," kata fungsionaris PPI, Ma'mun Murod Al-Barbasy. Dia memastikan bahwa PPI tak akan berdiam diri. Menurut dia, pada malam itu juga akan digelar pertemuan internal PPI untuk membahas masalah penggeledahan KPK ke markas tersebut dan langkah selanjutnya yang akan mereka tempuh.

Selasa, 01 Oktober 2013

Penghentian Layanan Pemerintah

Penghentian layanan pemerintah atau shutdown tengah melanda Amerika Serikat, menyusul tidak ada kata sepakat dari kedua kubu Kongres AS. Jika kondisi shutdown ini terus berlangsung, dipastikan layanan pemerintahan akan mati, di antaranya pembuatan paspor, visa, taman nasional, dan pajak.

Selain itu, layanan yang juga terancam adalah operasional Badan Antariksa AS (NASA). Dilansir Mashable, Selasa 1 Oktober 2013, pendanaan operasi NASA dilaporkan terancam, demikian juga kemungkinan konsekuensi pahit bagi sebagian besar 18.000 karyawan NASA yang harus cuti.

Kekhawatiran juga dialamatkan pada nasib dua astronot yang kini tengah menjalankan tugas di Stasiun Luar Angkasa Internasonal (ISS), Mike Hopkins dan Karen Nyberg.

Namun Presiden Barack Obama menjamin pemerintah AS tidak akan membiarkan dua astronot itu 'melayang' di luar angkasa tanpa dukungan. "NASA akan tutup hampir seluruhnya, tapi pengendali misi ruang angkasa akan tetap mendukung astronot yang bertugas di ISS," kata Obama.

Meski mendapatkan sinyal positif, tapi badan antariksa itu juga berjaga-jaga dari kemungkinan terdampak shutdown. NASA dilaporkan telah menyiapkan rencana darurat selama berminggu-minggu mengantisipasi dampak buruk shutdown.

Dalam  sebuah memo yang disusun Divisi Manajemen dan Anggaran, NASA mempersiapkan penataan lembaga. "Guna melindungi kehidupan kru serta aset NASA, kami akan terus mendukung operasi ISS yang direncanakan, selama masa kekosongan pendanaan," tulis pejabat NASA.

Selain itu, tambah pejabat itu, NASA akan memantau dampak dari potensi perpanjangan masa shutdown. Pantauan ini akan menentukan transportasi atau layanan pasokan kargo apa yang diperlukan untuk mengurangi ancaman nyata kehidupan dan properti di ISS.

Ironisnya, pemberlakuan shutdown ternyata bertepatan dengan ulang tahun ke-55 NASA. Badan antariksa itu merayakan pencapaiannya dengan resiko kekurangan anggaran.